Music (School) Business

Mungkin baru dalam hitungan minggu, atau mungkin hari, salah satu sekolah musik di bilangan Cinere mengalami pergantian nama. Awalnya sekolah musik tersebut berinisial VVV, sekarang berubah menjadi AG. Dengan mudah kita dapat menduga bahwa sekolah musik yang lama bangkrut kekurangan murid. Sejak pertama dibuka memang ruko tempat sekolah musik ini berdiri selalu terlihat sepi. Sekarang pun, setelah pergantian nama (dan mungkin keseluruhan manajemen), tetap terlihat sepi.

Sekolah musik (dalam konteks ini adalah sekolah musik klasik, pop, atau jazz di kota-kota besar) tidak bisa disebut sebagai institusi pendidikan secara utuh, mungkin lebih tepat disebut sebagai bisnis. Membisniskan pendidikan bukan hal yang aneh dewasa ini, dan bahkan sudah merupakan bagian dari kenyataan yang harus diterima masyarakat. Lagipula, pendidikan musik tidak lagi dijadikan sarana untuk mendapatkan ilmu, melainkan telah menjadi suatu gaya hidup. Perubahan paradigma ini lantas menjadikan pendidikan musik mendapat posisi yang penting bagi masyarakat kelas menengah, dimana, bagi mereka, gaya hidup merupakan hal terpenting dalam menjaga eksistensi.

Bisnis sekolah musik pun akhirnya menjamur dimana-mana akibat lonjakan jumlah peminat. Sayangnya pendidikan adalah suatu proses yang membutuhkan waktu lama, sementara ketertarikan sasaran pendidikan (murid dan calon murid) cenderung singkat ; hanya di awal saja. Kondisi ini biasa disebabkan oleh enggannya pengampu biaya (orang tua murid) untuk terus menerus memenuhi iuran sekolah musik. Saat keinginan untuk memiliki ‘gaya hidup’ telah terpenuhi, yang tersisa bagi orang tua murid pun hanya beban finansial. Manfaat pendidikan tidak akan mereka rasakan, pemikiran bahwa musik dapat menjadi investasi jangka panjang juga tidak dapat mereka pahami. Hal inilah yang menjadi masalah utama dalam bisnis sekolah musik : strategi dalam menjaga loyalitas murid. Kegagalan dalam mengatasi masalah inilah yang secara dominan mengakibatkan bangkrutnya begitu banyak sekolah musik, disamping permasalahan lain yang ikut mempersulit keadaan.

Idealisme vs Bisnis

Bisnis sekolah musik jelas-jelas menjadikan pendidikan sebagai komoditi utama. Dan jika kita berbicara dalam konteks yang ideal, pendidikan sebaiknya terlepas dari unsur-unsur pencarian keuntungan pribadi. Tapi bisnis tetaplah bisnis. Jika ingin terus dapat beroperasi, idealisme harus ditekan. Dan hal ini benar-benar terjadi di lapangan. Sebagian besar sekolah musik tidak benar-benar mampu menjaga kualitas pengajar, bahkan adapula yang sengaja mempekerjakan pengajar dengan kemampuan dibawah standar. Secara khusus dalam tulisan ini, penulis akan mengacu pada pendidikan musik klasik karena bidang itulah yang penulis tekuni dalam dua tahun terakhir. Dalam dunia klasik, kemampuan pemusik memiliki level standarisasi tersendiri yang biasa berlaku secara internasional. Sebagai contoh adalah sertifikasi dari Royal School of Music ABRSM Inggris. Sebagian besar sekolah musik menetapkan standar yang tidak terlalu tinggi dalam seleksi penerimaan guru. Hal ini wajar mengingat jumlah lulusan sekolah musik yang sangat minim.
Di satu sisi, kondisi ini menguntungkan sekolah musik karena rate pendapatan guru dengan sertifikasi rendah juga rendah. Namun dalam jangka panjang, kualitas guru yang rendah juga akan mencetak siswa dengan kualitas rendah. Jelas hal ini adalah nilai minus bagi bisnis sekolah musik.

Sayangnya, kebanyakan sekolah musik tidak memiliki i’tikad baik untuk melakukan upgrading kualitas pengajar. Kalaupun hal itu dilakukan, guru akan dikenakan biaya tambahan. Upgrading pun dibisniskan. Bahkan salah satu sekolah musik raksasa tanah air malah mempersulit jenjang karir guru lewat ujian-ujian (yang juga mahal biayanya). Di tengah kondisi serba sulit ini, kualitas guru bisa jadi mengalami kemunduran dan hal ini secara langsung mempengaruhi jumlah murid di suatu sekolah musik. Singkatnya, hanya guru berkualitas yang mampu membuat siswanya tekun dan disiplin untuk belajar. Begitupun sebaliknya, jika guru tidak memiliki kualitas memadai, seringkali siswa didikannya berhenti belajar dalam waktu singkat. Sekolah musik seringnya melupakan aspek idealisme dalam bisnisnya. Cepat atau lambat, kondisi ini akan jadi bumerang bagi keberlangsungan bisnis sekolah musik itu sendiri.

Pride vs Wealth

Selain permasalahan idealisme kualitas dalam mendidik, sekolah musik juga sering luput membenahi manajemen keuangannya. Sehingga dana yang masuk ke kas sekolah musik tidak cukup untuk membiayai operasional sekolah. Imbas paling nyata dirasakan oleh guru, seperti keterlambatan pembayaran gaji, atau bahkan gaji tidak dibayar lunas. Kondisi ini biasa terjadi akibat tunggakan iuran pendidikan murid. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pendidikan musik pada akhirnya hanya membawa beban finansial bagi sebagian besar orang tua murid. Biasanya, murid dengan tunggakan iuran lebih dari tiga bulan akan menghilang pada bulan keempat tanpa melunasi hutangnya. Bagian keuangan harus menetapkan kebijakan untuk mengatasi masalah ini, seperti pemberlakuan denda atau hal lain. Tetapi, berdasarkan pengalaman penulis, cara terbaik untuk mengatasi hal ini adalah dengan pendekatan personal dengan orangtua murid perihal biaya pendidikan.

Yang menjadi masalah terberat dalam menejemen keuangan adalah pihak keuangan dan administrasi ( Tata Usaha ) tidak ingin bersusah payah melakukan pendekatan personal. Tidak pula mereka ingin mengakali keuangan lewat berbagai subsidi dana. Permasalahan di-gampang-kan dengan cara tidak melunasi hak guru : jika murid dari guru ybs tidak melunasi iuran, maka guru tidak dibayar. Parahnya lagi, tugas untuk menagih iuran dibebankan kepada guru. Guru pun harus berhadapan dengan dua pilihan : mempertahankan harga dirinya sebagai guru, atau kesejahteraan hidupnya sendiri. Dua buah pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan. Kondisi ini terjadi di begitu banyak sekolah musik, bahkan di sekolah musik ternama sekalipun. Akibat kebijakan yang  ‘seenaknya’ ini, banyak guru yang lebih memilih untuk mengajar privat atau mengambil side job, tidak sedikit pula yang memilih untuk ngajar ‘ala kadarnya’. Ngajar sambil chatting atau buka social media bukan hal yang mengherankan.

All about Fee

Beberapa tahun lalu, salah satu sekolah musik di bilangan Fatmawati Jakarta menetapkan iuran sekolah mereka dalam rate Dollar Amerika. Alasannya adalah karena pangsa pasar mereka adalah golongan expatriat. Kebetulan di dekat lokasi sekolah musik tersebut terdapat sekolah internasional. Tetapi, tidak lama sesudahnya, sekolah internasional tersebut pindah lokasi, nilai tukar pun meninggi. Lantas apa yang terjadi? Hidup segan mati tak mau. Sekolah musik tersebut harus berjuang mempertahankan keberlangsungannya. Alhasil terdengar kabar bahwa iuran kembali dalam satuan Rupiah.

Adapula sekolah musik lain yang menetapkan bahwa murid-muridnya harus mengikuti kegiatan ini itu, seperti masterclass, mentoring class, pengambilan kelas instrumen minor, konser, atau ujian yang terdiri dari banyak tahap. Keseluruhan kegiatan tersebut dikenakan biaya tidak sedikit. Di samping iuran pokok yang jumlahnya juga tidak sedikit, kehadiran begitu banyak biaya tambahan membuat orangtua murid cenderung menghentikan kegiatan belajar anaknya. Hasil akhir? Lagi-lagi sekolah musik akan mengalami kerugian besar.

Penetapan iuran merupakan hal krusial dalam bisnis sekolah musik. Sekolah musik  butuh murid. Ini hal yang mutlak ada. Oleh karena itu biaya sekolah sebisa mungkin berjodoh dengan kemampuan orang tua murid. Jika ingin sukses berbisnis, jangan terlalu berlebihan dalam menentukan pangsa pasar. Pendidikan terjangkau sekaligus berkualitas memang terdengar naif, tetapi bukan berarti tidak dapat diwujudkan

Itulah tadi beberapa hal yang dihadapi dalam bisnis sekolah musik. Penulis berharap tulisan ini dapat menggambarkam percaturan dunia bisnis sekolah musik di kota-kota besar. Bisnis ini memang terlihat menggiurkan, tetapi kendala yang dihadapi juga tidak sederhana. Terlepas dari segala kendala lain, masalah kualitas tetap jadi sorotan utama. Singkatnya, bisnis pendidikan menuntut tanggung jawab moril yang besar.

Cinere, 5 April 2014
Annizza S.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s