Basis Kekuasaan

Kondisinya sekarang adalah gue abis pulang dari acara akad nikah sepupu. Ya seperti biasa akad nikah itu isinya ijab qobul gitu kan. Sebenernya bukan sesuatu yang luar biasa untuk diceritakan. Tapi ada satu hal menarik sih. Ternyata di jaman-jaman begini, bapak bapak (plus ibu ibunya) lagi demen banget ngomongin pilpres. Jadi pas lagi nunggu waktu acara dimulai, mereka sempet-sempetnya debatin capres dan cawapres. Yang lucu, walaupun umur udah pada tua, ternyata perdebatannya agak-agak konyol. Bisa dibilang ada orang-orang yang begitu mengidolakan salah satu capres, yang ketika ditanya alasannya, mereka mengutarakan hal-hal yang gak masuk akal. Lucu deh

Kisah tentang perdebatan tadi tetap jadi bahan obrolan sampe keluarga gue pulang. Bahkan perdebatan itu masih diomongin di dalem mobil. Kebetulan ada saudara emak gue yang lain yang ikutan nebeng pulang. Maka jadilah omongan tentang capres pilihan muncul kembali dan cerita-cerita lainnya pun ikutan diobrolin. Singkat cerita, dari hasil nguping obrolan-obrolan tersebut, gue dapetin satu gambaran tentang apa yang sebenernya terjadi sama manusia-manusia di republik ini.

Berbasis kekuasaan

Setiap orang berpikir dalam basis kekuasaan. Gak perlu jauh-jauh ke tingkat pemimpin negeri, mereka-mereka yang terdekat dengan kita pun punya pola pikir seperti itu tanpa mereka sadari (bahkan mungkin kita sendiri). Ada suatu paradigma bahwa berbagai hal dapat diatur dengan kekuasaan, uang termasuk di dalamnya. Sehingga, orang-orang berlomba untuk meraih kekuasaan. Menurut gue, kekuasaan bisa dimaknai sebagai hirarki tertinggi dari suatu organisasi. Organisasi itu bisa berupa perusahaan maupun negara. Dalam organisasi terdapat sistem yang mengikat setiap orang di dalamnya. Setiap orang pun sebenernya terikat dalam sistem yang berbeda-beda, tergantung dari dunia yang dikeluti oleh orang tersebut. Saat kita masuk ke dalam suatu sistem, kita akan ditempatkan, secara alami, ke hirarki terendah. Well, siapapun pasti ingin berada di hirarki tertinggi, tetapi sistem tidak akan berjalan jika motivasi setiap manusia di sistem tersebut adalah mencapai hirarki tertinggi. Kenapa? Karena sistem butuh organisasi utuh untuk dapat bergerak, hirarki yang tertinggi butuh yang terendah, yang terendah butuh yang tertinggi, yang di tengah disokong oleh yang di atas dan yang di bawahnya.

Sistem berjalan saat setiap orang menjalankan peran yang tepat, berada pada posisinya masing-masing. Dan untuk menjaga setiap orang tetap berada dalam porsinya, dibutuhkan suatu visi, tujuan, ideologi. Visi ini menjadi jiwa penggerak, agar setiap elemen menyadari kepentingan dari peran mereka, agar mereka menyadari bahwa setiap peran punya porsi tersendiri untuk mewujudkan tujuan dari sistem. Lhah terus? Kalau setiap orang sudah sadar akan visi, memangnya itu akan ngebuat orang-orang berhenti untuk berpikir dengan basis kekuasaan? Jawabannya : engga.

Menurut ide sotoy-sotoyan gue, orang-orang seringnya lupa bahwa hierarki dibentuk berdasarkan kemampuan dan tanggung jawab. Orang-orang seringnya lupa bahwa untuk naik dari satu titik ke titik lain dalam satu hirarki, dibutuhkan skill, integritas, kapabilitas untuk bisa melihat segala hal secara utuh, tidak parsial. Orang-orang serta merta melihat peningkatan posisinya dalam hirarki sebatas penambahan kekuasaan, sebatas otoritas untuk melaksanakan sesuatu yang sebelumnya bukan wewenangnya,  tidak lagi mementingkan kapabilitas apalagi tanggung jawab. Padahal setiap langkah yang diambil oleh satu titik dalam hirarki seharusnya adalah bentuk perwujudan dari visi. Orang-orang sebenarnya tidak lupa dengan visi mereka di dalam sistem, tetapi mereka tidak sadar bahwa apa yang dikerjakan sebenarnya bertolak belakang dengan visi. Apa yang akan terjadi apabila hal ini terus menerus terjadi? Simpel, sistemnya rusak.

Gue ngomong ngalur ngidur ke masalah sistem, padahal tadinya gue cuma mau ngomongin kalo orang-orang sekarang mikirnya berbasis kekuasaan. Maaf ya. Tapi sebenernya sih nyambung. Jaman sekarang orang memandang suatu titik dalam hirarki sebagai “posisi dengan kekuasaan sebagai berikut…. “. Sangat sedikit orang yang memandang titik tersebut sebagai “posisi dengan tanggung jawab sebagai berikut….”. Makanya banyak orang yang setelah lepas dari satu titik akan merasakan post power syndrom, soalnya mereka gak lagi punya kekuasaan. Tapi kalau mereka berpikir dalam basis tanggung jawab, mereka pasti lega, karena lepas sudah tanggung jawab mereka.

gue berani ngambil kesimpulan kaya gini, padahal obrolan yang gue denger di mobil berbeda jauh konteksnya. Kenapa? Karena setiap kalimat yang gue denger membawa gue ke kesimpulan ini. Ya gak perlu detail sih ya. Intinya pangkat, posisi, kedudukan, seringnya dilihat dalam kacamata kekuasaan, bukan dalam kacamata prestasi hasil kerja keras dan kemampuan. Menilai capres cawapres juga dari hegemoni kekuasaan, bukan dari kapabilitas. Lucu rasanya pas gue sadar ternyata ada orang-orang begini di sekitar gue. Tapi miris ketika sadar bahwa ya memang realitanya orang kaya gini itu banyak, kita juga bisa jadi adalah salah satu orang yang berpikir dalam basis kekuasaan walaupun kaliber kecil-kecilan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s