cakap-cakap Pilpres 2014

sebelum gue kehilangan momen, gue pengen nulis tentang Pemilihan Presiden 2014. bukannya mau ikut-ikutan, tapi memang kali ini pilpres-nya menarik, bahkan terlampau menarik, gue sendiri juga heran.

Kayanya baru sekarang ini yang namanya Pilpres jadi ajang yang bener-bener dahsyat sampe-sampe angka golput berkurang drastis. Baru kali ini juga gue merasakan arus fanatisme yang berlebihan untuk masing-masing calon. baru kali ini juga gue mendapati gencarnya black-campaign yang luar biasa di setiap lapisan masyarat, mulai dari tabloid-tabloid propaganda, sampai berbagai info di social media. baru kali ini Pilpres membuat gue merasa bahwa ajang ini adalah ‘penentuan masa depan Indonesia’. semua orang membicarakan, semua orang membela calon pilihannya. gue pun akhirnya mengikuti perkembangan Pilpres ini, mulai dari pembentukan koalisi sampai debat capres-cawapres.

Ideologi vs Angka

Indonesia itu negara demokrasi, dan untuk negara demokrasi, angka itu segalanya. masih yakin setiap partai punya ideologi yang jadi harga mati? engga boy, kalau suara udah minim, terpaksa harus gadai ideologi. pilih mana : kalah duluan gara-gara ga dapet suara atau melaju terus sambil nahan-nahan keinginan buat nyikut orang? itu yang terjadi di awal Pilpres 2014 (ralat : di setiap pilpres). gue sih awam banget ya. tapi sepenglihatan gue ya kaya gini. PDIP berusaha habis-habisan untuk dapetin suara diatas 20% supaya bisa melenggang santai ke pemilihan presiden dengan calon mereka sendiri. untuk dongkrak suara, dikeluarkanlah ‘Jokowi’s Effect’. jokowi dideklarasikan sebagai calon presiden dari PDIP. kalau dipikir-pikir, pede banget yak deklarasiin calon presiden, dapet suara aja belom tentu pas pemilu legislatif. tapi itulah taktik Mega, suka ga suka, sepaham maupun tidak sepaham, Mega pilih Jokowi. alhasil, suara PDIP memang tertinggi, tapi sayang.. kurang dari 20%. rencana awal gagal malah nambah musuh : Prabowo syebel banget.

Koalisi pun dibangun. Prabowo, yang udah 10 tahun pengen banget jadi presiden, juga gerak cepat berusaha mengimbangi PDIP dengan Jokowi-nya. desas-desus akan pilihan cawapres bagi Jokowi beredar. ada yang bilang calonnya adalah Mahfud MD, ada yang bilang Abraham Samad, pokoknya desas desus ramai. akhirnya, koalisi pun terbentuk : PDIP, PKB, Nasdem mencalonkan Jokowi-JK ; Gerindra, Golkar, PKS, PPP, PAN mencalonkan Prabowo-Hatta. maaf ada beberapa partai yang gak gue sebut, gue lupa, ampun. apakah partai-partai yang berkoalisi ini memiliki tujuan yang sama? oh engga. ini cuma masalah angka dan negosiasi jabatan. ARB jelas-jelas mengakui kalau dia dijanjikan posisi ‘Menteri Utama’, jabatan yang tidak pernah ada sebelumnya.

Fanatisme

di awal-awal masa kampanye, banyak diperkirakan bahwa Jokowi menang mutlak. sekarang apa yang terjadi? Jokowi belum tentu menang. semua karena strategi kampanye Prabowo termasuk canggih. terlepas dari segala isu santer kampanye hitam yang dilakukan oleh pendukungnya dan juga kisah kelam masa lalunya, gue mengakui bahwa Prabowo mampu meningkatkan figurnya sebagai pemimpin yang didamba rakyat. dalam beberapa ulasan media online, Prabowo berhasil meningkatkan elektabilitasnnya di tengah masyarakat kelas menengah. ia membangun sosok pemimpin yang disegani dalam dirinya sendiri: naik kuda, berbicara penuh emosi, slogan anti-asing anti-komunis anti-kebocoran dana. ia juga berorasi dengan menggunakan mikrofon seperti yang diguakan bung Karno, ia berbicara penuh klise dan retorika. belakangan saat gue membaca autobiografi Soekarno, gue pun sadar Prabowo benar-benar mengikuti cara ‘singa podium’ itu membakar hati rakyat. selain itu, gaya berpakaian, gerak-gerik, semua benar-benar seperti Soekarno.

dalam autobiografinya, Soekarno mengatakan bahwa ia adalah ahli psikologi massa. ia menyatakan bahwa rakyat mendambakan pemimpin yang kuat, kuat walaupun rakyatnya selama 3,5 abad ditindas. rakyat mendambakan pemimpin yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain. oleh karena itu Soekarno kerap menggunakan uniform yang gagah, guna menjadikan rakyat merasa tinggi, merasa sama dengan bangsa-bangsa lain. ia tidak peduli apakah media massa nasional maupun internasional mencaci dirinya. entah kenapa, gue merasa pandangan inilah yang sedang diterapkan Prabowo untuk masyarakat Indonesia saat ini.

Sayangnya, kondisi massa yang demikian itu terjadi 69 tahun lalu, saat bangsa ini masih jadi alas kaki Belanda. sekarang 69 tahun setelah merdeka, rakyat membutuhkan sosok lain. sosok baru itu lalu hadir, Jokowi. sebagai antitesa atas pemikiran Soekarno, Jokowi menempatkan dirinya sebagai figur yang lahir dari rakyat dan dikodratkan untuk melayani rakyat. ia membentuk citra dirinya sebagai orang yang bekerja, tidak hanya berbicara. masyarakat ekonomi kelas bawah pun kepincut mati dengan sosok ini.

dan jadilah saat ini Jokowi dan Prabowo sama-sama kuat. masing-masing punya pengikut yang fanatik dengan figur masing-masing. bisa dilihat bahwa figur yang ditonjolkan oleh masing-masing calon bertolak belakang, maka pendukungnya pun rata-rata memiliki sifat yang berbeda, berasal dari latarbelakang yang berbeda, serta memiliki bentuk fanatisme yang berbeda.

Penyokong

salah satu hal yang paling gue perhatikan sebenarnya adalah orang-orang dibalik calon presiden. sebagian besar masyarakat memilih calon presiden lewat figur atau sosok yang ada pada diri masing-masing calon. padahal, sosok tersebut adalah ‘bentukan’ atau ‘dibentuk oleh’ tim sukses masing-masing calon. gue sendiri menolak untuk menilai capres lewat figur tersebut, gue lebih tertarik untuk melihat para ‘penyokong’ calon-calon tersebut.

dibalik Prabowo ada sekian banyak partai Islam, PKS salah satu di antaranya. dalam bahasan kali ini gue bakal condong ke Jokowi, kenapa? karena buat gue, PKS is a big Nay. alasannya? cukup satu deh yang kuat : kasus impor daging sapi. selain itu sebenernya masih banyak lagi. ada siapa lagi? ARB? ARB dengan kasus Lapindo nya itu?. gue gak tau gimana jadinya kalau koalisi partai penyokong Prabowo yang bakal duduk di pemerintahan. ini bukan masalah ketegasan yang jadi ‘jualan’-nya seorang Prabowo, tapi memangnya Prabowo bisa bersikap tegas ke tim penyokongnya? yakin?

Perkara tim penyokong ini jelas membuat gue condong ke Jokowi. Di koalisinya ada Anies Baswedan, dan untuk perkara pendidikan, Anies paling bisa berbicara. Anies juga menyumbangkan konsep relawan, seperti yang ia bangun dengan organisasi TurunTangan, yang akhirnya jadi basis kekuatan Jokowi. tapi bukan berarti semua dari Jokowi jadi keren banget gitu di mata gue yak. Contohnya : Surya Paloh, gue bukan simpatisan doi.

selain itu, biasanya pendukung Prabowo cenderung membela Prabowo dengan cara mendiskreditkan pihak Jokowi, berbeda dengan pendukung Jokowi yang biasanya mendukung Jokowi karena kelebihan-kelebihan yang dimilikinya tanpa membanding-bandingkannya dengan Prabowo (walaupun fanatisme negatif tetap menjamur di sebagian pengikutnya). intinya, gue ga suka gimana caranya prabowo ngebentuk mentalitas pendukungnya. gue sendiri bukan fanatik Jokowi, tapi gue suka setiap gerakan yang dilakukan pendukung Jokowi yang mengedepankan langkah konkrit plus sukarela. gue suka gimana tim Jokowi ngebentuk mentalitas para relawannya untuk ‘ikut turun tangan membangun Indonesia’, gak cuma ‘nunggu pemimpin’. walaupun gerakan relawan ini jadinya tidak terlalu struktur sehingga elektabilitas Jokowi harus bersaing ketat dengan Prabowo. dalam berbagai media online diulas bahwa gerakan relawan Jokowi kalah dengan sistem kampanye Prabowo yang terstruktur rapi mulai dari tingkat propinsi hingga Rukun Tetangga. Kampanye Prabowo dapat diibaratkan instruksi terorganisir dari atasan ke bawahan. simpatisan Jokowi mengatakan bahwa sistem ini seakan membawa kita kembali ke ‘orde baru’.

nah, terlepas dari unsur ‘penyokong’ masing-masing calon, gue tidak meragukan kemampuan masing-masing calon. masing-masing dari mereka punya karisma tersendiri. kalau perihal masa lalu, yang cenderung memberatkan Prabowo (karena kasus pelanggaran HAM-nya), gue ga bisa ngambil kesimpulan. di satu sisi gue ga mempelajari hal itu lebih dalam, lagipula fakta sulit untuk didapat.

jadi, inilah dia editorial Pilpres versi gue. abal, gak dalem, tapi paling engga inilah potret yang gue dapet mengenai Pilpres paling dahsyat seumur-umur hidup gue (yeelah padahal baru nyoblos perdana). last but not least, jangan golput yak!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s