Catatan Agustus

Mari merekapitulasi kejadian. Udah lama banget rasanya gue gak nulis, terakhir itu pas mau Pilpres dan terhitung hari tersebut hingga sekarang, udah banyak banget hal yang terjadi. FYI, tulisan gue tidak dimaksudkan untuk ngasih editorial mengenai suatu kejadian berdasarkan paham ilmu A, B, C, D. Engga. Ini tulisan random tentang gua, terutama tentang isi otak dan hati gua (halah), dan tulisannya panjang pula hehe. 

Jadi gini, gini-gini gue ini sebenernya gampang terpengaruh sama siapapun. mungkin ga sepenuhnya terpengaruh sih, gue ralat, tapi gue selalu mempertimbangkan pendapat orang lain walaupun pada akhirnya gue menetapkan sendiri apa yang gue mau. contohnya mungkin pada saat gue jadi jobseeker beberapa saat lalu  (by the way, gue udah keterima kerja, Alhamdulillah), gue mudah terpengaruh untuk apply ke perusahaan A atau B. Setelah gue apply, barulah gue sadar bahwa sebenernya gue ga pengen kerja di bidang yang dikeluti oleh si perusahaan A atau B ini. Sebenernya gak ada siapapun yang mempengaruhi gue untuk apply ke A atau B, tapi gue tergerak dengan sendirinya karena adanya kesempatan. Nah, i finally get in to the point, kesempatan! Kesempatan, menurut gue, adalah hal yang paling mempengaruhi diri gue dan merupakan alasan utama dibalik ke-tidak konsisten-an gue. Kalau mikirin tentang kesempatan, gue selalu memandang diri gue sebagai potential resource dan di depan gue ada banyak hal (entah perusahaan atau apapun) yang membutuhkan potensi gue. Bukannya narsis atau bangga-banggain diri, tapi gue ngerasa setiap orang pun seharusnya berfikir seperti itu ; bahwa dirinya punya sesuatu yang dibutuhkan oleh orang lain. Di sisi lain, kita pun membutuhkan orang lain. Keadaan ‘saling membutuhkan’ ini yang jadi pemicu supaya kita ngembangin potensi diri dan akhirnya ‘berjodoh’ dengan mereka yang membutuhkan potensi tersebut. Tetapi permasalahan yang muncul adalah kita punya banyak pilihan di depan mata, pilihan ke arah mana potensi tersebut mau kita kerucutkan. contoh nyata yang terjadi di gue : gue harus memilih dari sekian lowongan pekerjaan yang sesuai dengan potensi gue. beberapa pilihan kemudian dibuat, tapi gak selamanya pilihan gue tepat. Gue banyak salah pilih dan semua itu terjadi cuman gara-gara gue punya kesempatan.

Setelah gue salah memilih (salah apply padahal gue gak pengen kerja di perusahaan tsb), gue akhirnya menentukan sikap. oke, gue gamau kerja di bidang X, Y, Z. Jadi, walaupun perusahaan yang bergerak di bidang tersebut lagi buka rekrutmen besar-besaran, gue tetap gak akan apply. Tapi hingga saat-saat terakhir pun gue masih labil, gue masih mempertimbangkan, walaupun ujung dari pertimbangan gue tetap menolak bidang tersebut. Sering gue mendapati diri gue memikirkan benefit dari pekerjaan di bidang-bidang X,Y, dan Z. Tapi gue kemudian ingat kalau gue punya alasan kuat untuk menolak X, Y, dan Z. Sayangnya, benefit-benefit tersebut kerap lewat di kepala, dan gue lagi-lagi ingat alasan untuk tetap berkata tidak. Super labil memang. Tapi memang gitu faktanya, gue gak bisa pungkirin. 

Perkara kesempatan ini memang gak main-main. Yang tadinya lu gak pengen, bisa-bisa jadi kepengen, cuma gegara lu punya kesempatan. Yang tadinya iseng “ah coba apply ah”, eh ujung-ujungnya lu lolos interview. atau mungkin kondisi yang sebaliknya berlaku. lu bener-bener ngarepin kesempatan dateng, eh ga dateng-dateng. pas sekalinya dateng, waktunya gak pas, atau mungkin mood lu udah berubah. kesempatan bener-bener pengaruhin hidup lo, pengaruhin emosi lo, pengaruhin pilihan lo. itulah yang gue rasain saat jobseeking, gue terpengaruh banget sama kesempatan yang ada, sama siapapun yang menawarkan kesempatan. gue terpengaruh banget sama sepupu gue yang nawarin bantuan untuk kirim CV ke perusahaannya, padahal bidang perusahaannya jauh banget sama kuliah gue. gue terpengaruh banget sama temen gue untuk dateng ke suatu perusahaan yang gak jelas juntrungannya, walau akhirnya gue tinggalkan karena feeling gue jelek banget pas berinteraksi dengan orang-orang di perusahaan tersebut. gue pernah terpengaruh banget untuk jadi aktuaris atau banker hanya karena sebagian besar anak matek berkecimpung disana, padahal gue tau gue ga cocok dan keluarga gue ga sreg dengan kerjaan tersebut . gue pernah terpengaruh banget untuk jadi guru piano aja karena gue merasa itu memang enak dan ada seseorang di tempat les yang jadi pengajar full-time piano padahal dia lulusan teknik. gue pernah terpengaruh untuk batalin deal dengan satu perusahaan karena di-offer sama perusahaan lain dengan cara yang persuasif banget, padahal offeringnya sama. in the end ya semua masalah pilihan.

pertanyaan lain muncul perkara menentukan pilihan. untuk hal ini gue akan beralih ke hal lain yang terjadi di hidup gue. apa sih yang sebenernya gue mau dalam hidup gue? mungkin lo semua pernah berfikir tentang hal ini. apa yang lo mau, apa yang lo suka, berpengaruh terhadap pilihan-pilihan lo dalam hidup. masalahnya apa yang gue mau, apa yang gue suka, semua diluar kendali diri gue sendiri. oke, gue ga ngerti filsafat sama sekali dan buat gue filsafat itu susah. jadi gue gak akan bahas perihal ‘kemauan manusia’ dari sisi filsafat. tapi gue kerap bertanya, sebenernya apa yang membuat gue mau dan suka akan suatu hal? gue suka matematik, tapi kenapa gue suka? dalam interview kerja gue akan jawab bahwa gue suka matematik karena pas bimbel di kelas 3 SMA gue ketemu kakak pembimbing yang oke banget, dan gue makin jatuh cinta saat gue kuliah di matematik UI. tapi sebenernya kan gak gara-gara itu kan? gue suka karena gue suka. tapi dalam pola pikir logika, ya semua harus ada alasannya dong. alasan yang gue sebut di atas gak dikarang-karang, tapi gue merasa alasan tersebut, walau 95% benar, tidak benar-benar jadi alasan atas rasa suka gue. nah, menurut gue banyak hal krusial di hidup yang sebenernya diputuskan tidak dengan logika. perkara ‘gue suka matematik’ itu memang punya latar belakang, tapi ya cuma sebatas latar belakang, pada hakikatnya gue suka matematik, ya udah gitu aja. gue memilih kerja di consulting, kalau ditanya saat interview kenapa, gue bakal jawab karena di consulting gue akan nemuin banyak masalah yang ga gitu-gitu aja, gue mau tantangan. itu nilai plus consulting yang secara rasional merupakan alasan ketertarikan gue. tapi lagi-lagi, sebenernya gue tertarik karena gue tertarik aja. para aktuaris boleh ngeklaim kerjaan mereka well-paid dan enak dan bla bla bla, tapi ya gue ga tertarik, terus kenapa? alasan terkadang cuma jadi alasan. 

apa yang gue mau, apa yang gue suka, apa yang gue pengen, sebenernya ya gue sendiri kadang gatau. tapi toh ternyata hidup jalan terus sampe detik ini. gue kerap menentukan pilihan gue walaupun gue gatau apa yang bakal gue hadapi. gue kerap menyertakan alasan rasional dibalik setiap tindakan gue walaupun seringkali gue dapetin mulut gue nyerocos aja tanpa persetujuan otak, yang penting hati senang. kadang-kadang gue bingung sama yang gue pikirin. coba aja liat tulisan di atas, gue udah menyatakan bahwa pilihan itu tergantung sama apa yang dimauin seseorang, apa yang disukai seseorang. gue declare kalau gue suka matematik dan mau kerja consulting, tapi gue ga bener-bener tau kenapa, i mean, yes i knew the reasons but i think that those were not essentials, but then i made choices based on those reasons. terus piye? 

gini-gini gue banyak berfikir lho, apalagi kalau pas buang hajat. kalau gue liat ke belakang (maksudnya ke masa lalu ya), rasanya hidup gue ini banyak jalan mulusnya, padahal amal ibadah gue ga banyak-banyak banget, usaha gue agak lumayan lah tapi ya ga sampe gimana banget, wajar-wajar aja. kalau gue gagal, gue kemudian nemu yang ternyata lebih baik di tempat lain. kalau gue sedih, gak berapa lama gue jadi bahagia. kalau gue kepepet, eh ga berapa lama muncul banyak kesempatan. Dalam persemedian gue di WC pun akhirnya gue bertanya-tanya, gue hidup buat apaan yak? gila berat banget pertanyaan gue. tapi bener lho, dari semua kegalauan, kesempatan, kesenangan, kesedihan, kekayaan, kemelaratan, kesusahan, kesakitan, dan hal lain yang gue alamin (terutama belakangan ini), gue jadi mikir tentang tujuan hidup. nah yang bikin heran adalah kok bisa-bisanya gue mikirin hidup pas lagi buang hajat.

mari lupakan tujuan hidup, karena terlalu berat.

sedikit melihat ke belakang, sedari saat gue lulus sampe detik ini yang gue lakukan adalah nyari kerja. nyari kerja diawali dengan nulis resume. kemudian buat cover letter. kemudian apply di jobstreet atau jobsDB atau pake email langsung ke hrd atau ke user atau siapapun itu. selain itu gue kembali ngajar piano, kali ini hanya di hari sabtu. gue dapetin murid gue yang lama kembali ke gue, tapi cuma 1 dari 22 murid. that’s great actually, haha. selain yang satu itu, ada lagi 3 murid lain, tiga-tiganya gue udah kenal, murid lama, tapi pindah guru. tiga dari empat murid gue berada di level basic 2. satu di antaranya cukup pintar walau kerajinan diragukan akibat sekolah. dua lagi tidak pernah berlatih, satu karena memang malas, satu lagi karena kurang motivasi. murid yang keempat berada di tingkat basic 1 tapi masih awal, progressnya ngaco, males latihan. kalau ingat-ingat tentang piano, gue jadi inget, salah seorang teman dulu pernah bertanya , “cha, kok lo bisa sih kuliah sambil ngajar?” wah gile, sekarang juga gue bingung kenapa bisa. sekarang sih gue bersyukur udah ga perlu ngajar sambil kuliah lagi. kadang-kadang gue bingung nyebutnya kuliah sambil ngajar atau ngajar sambil kuliah. prioritas gue ga mutlak di kuliah juga soalnya, kadang-kadang (bahkan sering) gue ngeduluin ngajar. tapi bukan berarti gue menyesal lhoh ya pernah ngelakuin itu. belakangan, si teman yang bertanya itu pun jadi guru juga, sembari kuliah juga, dan juga mengambil keputusan yang setipe dengan yang gue lakukan dulu : ngeduluin ngajar untuk beberapa keadaan genting. mungkin terdengar aneh ya, pendidikan di-nomor dua-kan. kalau menurut teori sih memang harusnya nomer satu, tapi tanggung jawab ga peduli sama urutan prioritas. untuk bagian ini gue bingung gimana jelasinnya, tapi gue yakin temen gue yang sekarang jadi guru itu pasti ngerti sama yang gue maksud. mungkin ngajar terdengar simpel ya, ‘oh cuman ngajar piano, kuliah dulu lah harusnya’. tapi gak semudah itu menomorduakan ngajar. ternyata prioritas gak harus selalu baku di setiap waktu kok. gak melulu harus kuliah nomer satu dan ngajar nomer dua. ada satu hal yang bisa gue dapetin selama gue ngajar : belajar tanggung jawab. sayangnya pelajaran ini gak bisa didapet kalau kita cuma jadi guru pendamping, kakak pembimbing, tutor les tambahan. kita baru bener-bener ngerasain tanggung jawab kalau kita jadi guru yang sebenarnya, yang bertanggung jawab sepenuhnya atas ilmu yang diberikan, yang juga berperan sebagai pendidik, bukan sekedar pengajar. kalau udah paham sama yang namanya tanggung jawab, perkara kuliah sambil ngajar sih bukan jadi masalah lagi. ralat, masalah sih, hehe, tapi ga bikin gue pengen berhenti ngajar tuh. walaupun akhirnya berhenti juga sih hehehe, kesehatan berkata lain.

selain ngajar dan jobhunting, gue ga ngapa-ngapain lagi, palingan baca. akhir-akhir ini gue coba baca Madilog karya Tan Malaka. oh men bagian filsafatnya bikin mules dah, ga ngerti apa-apaan gue. tapi gue baru tau ternyata dia guru matematika dan bahasa inggris. Pola pikirnya, yang didasarkan pada materialisme, dialektika, dan logika (MaDiLog), benar-benar oke dan tinggi. gue rasa gue butuh baca buku-buku lain yang lebih mudah dicerna sebelum baca Madilog.

dan tulisan ini pun benar-benar berubah jadi curhatan. memang sengaja dibuat demikian. di tulisan gue beberapa waktu lalu, gue mengungkapkan rasa syukur gue karena gue terus nulis blog dari SMA walau jarang-jarang. sehingga gue akhirnya masih bisa ngeliat isi kepala gue beberapa tahun lalu. tulisan ini tujuannya jadi memoar juga kok, karena sudah lama gak nulis, makanya sekalinya nulis, tulisannya dibuat panjang : sebagai pengingat momen. nah sekarang gue udah bingung mau nulis apa dan gue udah mulai batuk-batuk jadi mending gue sudahi saja tulisan ini. ciao bella!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s