Aku tertipu oleh hidupku sendiri

Aku tertipu oleh hidupku sendiri
Layaknya 80% orang yang kalah
Namun merasa jadi 20% lainnya, para pemenang

Aku lupa aku tak berani melihat mimpiku sendiri
Karena aku sibuk memastikan apakah aku punya cukup penggaris
Untuk bisa mengukur jarak
Jarak antara diamnya kaki dan mimpi

Aku lupa aku pernah jadi pemimpi
Memandang diri dengan bangga hati
Yakin bahwa dunia akan aku rengkuh di kemudian hari

Tapi kemudian takut itu menyergap
Dan aku tersekap pengap
Dan tak lagi mampu bermimpi
Mati di tanah imajinasi
Terkungkung dalam takut yang mewujud rasa aman

Takut dan aman itu penipu
Aku ingin bebas tanpa perlu merasa aman
Aku ingin lepas tanpa perlu dikuasai takut

Untuk apalah ilmu dicari?
Jika di ujung waktu aku hanya jadi budak materi
Kusadari aku berubah menjadi
Sosok yang sedari SMA kucaci maki

Terkadang aku ingin berjumpa dengan dia
Diriku di bangku SMA
Mungkin ia akan menamparku dengan keras
Meluapkan marahnya lewat makian keji
“Kau pikir buat apa aku berimaji?”
“Saraf otakmu mungkin berkembang, tapi kemana nyalimu? Kemana semangatmu? Kemana hasratmu? Lumpuh! Aku lebih baik dimakan anjing!”
Pasti ia marah kepadaku
Aku ingin minta maaf kepadanya
“Buang saja margamu!”

Sosok itu berbicara seenaknya
Tapi itu yang disebut muda
Berani
Tak perduli
Tapi punya mimpi

Hidupku menipuku
Mencuri mimpi-mimpiku
Mengenalkanku pada rasa takut
Sekaligus pada rasa aman yang semu

Teruntuk kamu, diriku sendiri di masa lalu
Bisakah kamu kembali?
Aku ingin kembali bermimpi
Bahagia dalam imaji dan fantasi
Tak gentar tak takut mati

Teringat aku pada diriku di SMP
Kala itu ia selalu mengingat sebuah sajak dari Slamet Gundono
Aku yang sekarang tak lagi ingat seperti apa bunyinya
Sedikit kurang ini yang mampu kuingat
“Apakah kamu takut sendiri?
Tapi, manusia memang selalu sendiri”
Ada yang membekas dari sajak ini
Sesuatu yang saat ini tak lagi bisa kupahami
Aku yang sekarang
Tidak lagi sepeka aku di SMP

Aku tertipu oleh hidupku sendiri

Advertisements