2015

Senin pagi yang gerimis di Cinere. Jam menunjukkan pukul 09.40. Sekarang bukan tanggal merah dan gue nulis blog di kamar — di depan laptop merah maroon superlemot . Lho?

Well, iya, gue ga kerja. kenapa gue ga kerja? well, iya, gue pengangguran. SEDIH BANGET GA SIH UHUHUHU.

Well, ga sesedih itu sih. Rasanya indescribable, kalau lo pengangguran dan mengalami apa yang gue alami, ya lo juga pasti bakal bingung mau mengkategorikan sikap lo sebagai bersikap sedih, seneng, marah, hampa, atau sikap lainnya.

SECARA GITU SEKARANG SUDAH 2015. Tapi gue memulai tahun gue sebagai unemployed. Jujur aja dalam satu bulan terakhir, ada banyak banget yang gue alamin. Dan semuanya super ekstrim. Yang terjadi, menurut gue, adalah momentum dimana cobaan hidup dan kebodohan gue lagi mencapai puncaknya. Tapi gue percaya, selalu ada hal baik yang menanti kita di depan. Di tulisan ini gue bakal cerita, cerita yang gue tulis bersifat subjektif dan berpihak ke diri gue sendiri (jelas lah), tapi gue akan mencoba se-objektif mungkin.

Semua berawal dari kondisi fisik yang buruk ditambah situasi gue sebagai anak paling kecil (perempuan pula). Semua itu ngebuat keluarga gue selalu feel insecure kalau gue kerja dengan bobot berlebihan, padahal sebenernya gue mampu (walau sering masuk angin). Mau gak mau, gue sendiri juga kena imbas dari pemikiran itu. Gue sendiri berpikir bahwa gue ga akan mampu kerja terlalu berat. Apalagi hingga detik ini, TB gue gak kunjung sembuh : dokter gue bolak balik nurunin dan naikin jumlah antibiotik gue. Pernah dianggap sudah baik, jumlah obat pun berkurang, tapi dalam kontrol berikutnya, jumlah obat ditambah lagi. Akhirnya,  gue sendiri pun tersugesti untuk bersikap lemah dan berpikir bahwa gue seharusnya menjalani hari-hari gue dengan satu buah pekerjaan. FYI, pada saat gue pertama kerja kantoran, gue tetep ngajar piano di hari Sabtu. Bahkan kerja kantoran aja udah nguras tenaga, apalagi ditambah ngajar piano yang emang kodratnya nguras tenaga pengajar. Gue pun keteteran karena fokus gue kerap terpecah. Kerjaan gue saat itu jauh banget dari kata matematika, sehari-hari gue bercengkerama dengan Daily Drilling Report. Yup, gue terjun ke sektor perminyakan. Kepenatan gue membawa gue ke satu kesimpulan : Gue harus pilih prioritas pekerjaan, atau gue bakalan jadi loser seumur hidup.

Well, mungkin ada orang yang tetep bisa jalani double job. Ada orang yang tahan dengan tekanan hingga akhirnya toh jadi sukses juga. Disini muncul perdebatan pertama dalam hidup gue, masa sih gue nyerah gitu aja sama keadaan? Jujur memang gue merasa lemah banget, tapi gue tau, bertahan dengan dua buah kerjaan dimana fokus gue kerap terpecah hanya akan menghancurkan hidup gue ke depannya. Sabodo amat sama orang-orang yang merasa gue harus bertahan jalani dua-duanya. Di titik itulah gue mengambil sikap, gue akan pilih satu aja di antara dua kerjaan ini. 

Mungkin lo semua heran, dibanding kerja kantor, pastilah ngajar piano bisa dikategorikan sebagai ‘gak kerja’ karena ga bikin pusing, malah banyakan happy, dan tetep dibayar tinggi. Faktanya tidak demikian. Kantor menuntut kinerja otak, ngajar menuntut kinerja fisik yang super. Kantor maupun ngajar sama-sama bisa bikin depresi (gak selamanya ngajar itu happy). Dan masalah bayaran, guru piano privat memang dibayar tinggi (banget), tapi guru piano di sekolah musik sih ya standar aja. Full time teacher bisa disandingkan kok gajinya dengan karyawan kantor. Intinya ya bok, gue ga pernah menganggap ngajar piano sebagai kerjaan nomer dua. Gak ada profesi yang pantes untuk di-nomer dua-kan atau dianggap lebih rendah dari yang lain.

Setelah gue istikharah, gue memantapkan hati gue untuk memilih satu jenis pekerjaan. Dan pilihan gue jatoh ke ngajar piano. Tidak dengan anggapan bahwa piano lebih ‘mudah’, tapi lebih ke situasi dimana ngajar piano gak akan menghabiskan tenaga gue dan membantu kesehatan gue (lokasi ngajar dekat, waktu fleksibel).Sekarang, gue merasa alasan itu adalah kesalahan fatal (alasannya yang salah, pilihannya engga loh ya). Tapi dibalik itu semua memang gue selalu senang untuk mengajar. Akhirnya gue mengambil keputusan terekstrim dalam hidup gue : pergi dari kantor, dan melupakan semua potensi yang gue dapat lewat pendidikan gue.

Hari-hari berlalu, dan gue merasa gue memang udah cukup gila untuk ninggalin kantor. Akhirnya gue pun resign. Sedihkah gue? iya sedih. Jujur gue bukannya gak suka sama kantor, tapi ini semata-mata untuk tetap bertahan di prinsip gue bahwa untuk jadi sukses gue harus pilih satu jalan dan total di jalan tersebut. Naif banget ga sih? iya memang. Tapi mari dilanjutkan dulu ceritanya.

Saat akhirnya gue cabut dari kantor, gue pun mengabari direktur sekolah musik gue. Jelas dengan tujuan bahwa gue meminta ada tambahan murid. Tapi ternyata gue ditawari kesempatan lain : kesempatan bisnis pendidikan. Buat gue itu suatu tantangan besar, dan bisa disebut juga sebagai keberuntungan. Setelah diskusi dengan keluarga, gue pun setuju untuk join dengan sang direktur. Ajaib banget gak sih hidup gue? penuh berkah gitu.. Tapi disinilah gue akhirnya paham, pelajaran dan cobaan seringnya muncul dalam wujud paling manis; kerjasama itu pada akhirnya berakhir dengan miris..

Rumit. Itu kondisi yang gue hadapi saat menjalani kerjasama. Gue terjepit dalam situasi keluarga gue yang punya pakem sistem bisnis kuat dan pihak direktur gue yang pake sistem bisnis ala ala toko kelontong. Singkat cerita, pihak direktur gue akhirnya memutuskan tali kerjasama secara sepihak karena merasa tawaran pembentukan sistem oleh pihak gue terlalu beribet. Padahal yang pihak gue minta hanyalah kontrak yang jelas berisi rincian jumlah modal total, rincian modal yang harus disetor, dan pembentukan rekening bersama atas nama usaha bersama. Tuntutan itu dimaknai sebagai ‘ketidakpercayaan’ oleh pihak direktur.

Gue menerima kondisi yang terjadi. Di satu sisi, sang direktur sendiri punya peranan besar dalam hidup gue, dia adalah guru piano gue sendiri selama 10 tahun. Gagal dalam kerjasama, gue masih stay dalam bisnis dengan posisi sebagai pengelola. Sayangnya, selama beberapa minggu gue berinteraksi dengan beliau (direktur), gue sadar bahwa ada banyak prinsip yang berbeda antara gue dan dia. Disitulah gue bener-bener sadar, bahwa orang yang paling lama lo ikutin pun sebenernya ga pernah bisa ngebentuk sifat dan sikap lo. Dan seorang guru, setinggi apapun ilmunya, juga cuman manusia biasa; gak lepas dari kesalahan. Itu terbukti dari begitu banyak sikap yang dia tunjukkan, keputusan yang dia ambil, prinsip yang dia anut, yang semuanya bertentangan dengan gue. Gak perlu diceritain disini juga ya. Itu namanya bongkar aib orang, hehe. Sampai pada akhirnya, gue memutuskan berhenti jadi pengelola, tepat sesaat sebelum bisnis itu launching.

Gue salah memang. Tapi banyak pelajaran yang gue ambil dari kesalahan gue. Kenapa gue gak tegas dari awal? kenapa gue terlalu sering go with the flow? kalau memang gue punya prinsip, kenapa gak gue paparkan dari awal? kenapa harus di saat terakhir baru bilang? banyak kesalahan gue yang jadi pemicu kemarahan direktur itu ke gue yang akhirnya membuat karir gue sebagai guru piano di sekolah musiknya pun berakhir. Gue akuin kesalahan gue karena telah jadi orang yang terlalu menye-menye.

Tapi kesalahan gue gak sedikitpun mengurangi kesalahan dia ke gue. Dan mirisnya, dia gak sadar bahwa dia salah ke gue. Yang ada dia merasa dirugikan aja.

Mungkin lo semua ngerasa gue ngarang-ngarang aja kali ya mengenai perkara kesalahan ini. Mungkin lo semua merasa ini cuma self-defense aja biar gue gak ngerasa nyesel-nyesel amat gitu. Ya terserah aja sih. Tapi setelah kejadian itu gue gak kenapa-kenapa, langit ga runtuh, bunga gak layu, matahari tetap bersinar. Yang berubah cuman ya gue jadi pengangguran. Yah, itu sih yang jadi perkara, hehehe. Dan untuk kesalahan gue.. well, I’ll try my best to fix it. Kesalahan itu penting, tanpa kesalahan, lo ga akan pernah belajar.

Hal lain yang sebenernya berubah banget di diri gue adalah pandangan gue tentang hidup. Gue sadar bahwa ‘no one can teach about life, except the life itself’. Gue sadar, bahkan guru gue sendiri gagal mengajarkan itu ke gue, karena kita ngejalanin hidup yang berbeda. Kesalahan gue yang lain adalah gue mendengarkan dan berusaha mengamalkan prinsip hidup orang lain dalam hidup gue, mengadopsi pembenaran orang lain sebagai pembenaran gue, dan berharap agar ada yang memahami hidup gue.

Hubungan gue dan sang direktur kali ini benar-benar putus.

Sensasinya kaya putus sama pacar. Lo sayang, tapi lo tau lo deserve better. Lo kesel, tapi lo selalu ingat masa-masa lalu saat semua masih baik-baik aja. Lo tau lo harus move on, tapi lo cenderung terpuruk dan menimbang-nimbang kesalahan lo dan kesalahan dia. Kadang-kadang gue mikir, kenapa hubungan baik bisa putus gitu aja. Bahkan saat gue nulis ini pun, hati gue masih nelangsa. No one blame me for what I did (yeah except the director herself and people who believe in her). Sebaliknya, gue didukung abis-abisan karena gue telah ngambil keputusan tersebut. Yah.. situasinya sama persis kaya putus cinta lah. Tapi memang begitu kan? People come to our lives, either as a bless or a lesson.

Gue sadar gue mengawali 2015 dengan penuh kesalahan yang akhirnya berujung pada krisis tujuan hidup. Tapi ternyata gak gue doang yang mengalami ini, temen-temen gue juga. walau dengan kasus yang berbeda-beda, semua orang sekarang cenderung bingung dengan apa yang mau dilakukan selanjutnya. Mungkin ini dialami semua yang baru lepas dari kampus atau sekolah formalnya. Kejadian yang gue alamin bener-bener ngerombak segala yang gue percayain tentang hidup dan gue merasa sulit untuk tahu apa tujuan hidup gue, baik dalam waktu dekat, 10 tahun lagi, atau 50 tahun lagi.

Bokap gue selalu mengingatkan gue akan satu pertanyaan filsafat, well, ralat, 2 pertanyaan sih tapi sepaket :

“siapa kita? dan mau kemana kita?”

Pertanyaan pertama terkait dengan pijakan kaki kita. Bokap gue mengingatkan untuk pilih pijakan yang baik, agar saat melompat menuju lokasi yang kita inginkan (pertanyaan kedua), kita tidak akan jatuh. Analogi yang sungguh manis untuk menggambarkan hidup.

Sedihnya, hingga saat ini, dua pertanyaan itu belum bisa gue jawab. Tapi gue tetep berusaha. Kalau lo gimana? udah punya jawaban belum? :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s