Facebooking Again

Belakangan gue suka main Facebook lagi. Walau teman-teman terdekat bilang FB itu super ketinggalan (yang lagi ngehits sekarang itu Path dan IG), tapi menurut gue FB lebih baik karena yang ada di dalem situ bukan cuma update-an kegiatan temen-temen lo. Bahkan, gue bisa lupa buka Path untuk beberapa hari (jadi gue bisa dibilang kudet perkara kegiatan teman-teman), tapi gue bisa buka FB setiap saat. Bukannya gue gak tertarik dengan Path, semua orang terlahir kepo, khususnya kepo sama hidup orang lain, tapi buat gue, kepo tentang kehidupan sehari-hari orang lain itu tidak termasuk hal yang harus dilakukan setiap saat.

Beda dengan Path, belakangan FB lebih jadi platform untuk share ide (dan propaganda, yeah). Di timeline FB, gue bisa liat orang-orang share artikel atau video. Menurut gue, itu lebih menarik daripada timeline Path yang isinya check-in lokasi hang-out, tag temen atau pacar, post foto di suatu tempat ngehits, atau share “listening to/watching something”. Bukannya gue ga suka main Path ya, i just think that i don’t need it in daily basis.

Kembali ke FB, what people share in their FB utterly represent their inner mind. Dan dari begitu banyak  fitur yang ditawarkan FB, status dari orang lain (public figure atau yang lain) adalah yang paling banyak dishare oleh pengguna FB. Setelah itu disusul dengan artikel dari suatu website, kemudian foto dan video. Status yang dishare biasanya sih panjang-panjang, dan topiknya cukup serius. Misal tentang kesehatan, motivasi hidup, kajian agama (ini paling sering), sampe politik. Sayangnya sih, banyak dari postingan tersebut yang hoax dan menebar kebencian. Ini yang gue maksud di kalimat pertama paragraf ini, apa yang seseorang share itu bener-bener ngegambarin kualitas diri mereka.  Banyak yang suka share status penuh kebencian, khususnya masalah agama, kaya status-status Jonru. Ada yang melulu ngekritik Jokowi. Ada yang mengkafir-kafirkan Ahok. Kadang gue mikir sih, pentingnya apa sih buat mereka untuk ngeshare status penuh kebencian kaya gitu?

Syukurlah di FB ada fitur unfollow, jadi gue bisa menyingkirkan mereka-mereka yang suka ngeshare status ga penting.

Selain status, banyak orang yang suka share artikel. Nah ngebahas artikel-artikel ini menarik, karena ga semuanya bermutu, hahaha. Gara-gara FB, sekarang banyak website bermunculan yang menawarkan artikel-artikel gress buat kawula muda ibukota. Contohnya : hipwee atau idntimes. Judul dari artikel-artikel dari website ala ala ini punya pola yang sama, yaitu :

[Angka]  – [Sesuatu/Kegiatan]

Contoh :

7 cara menabung agar kamu bisa resepsi tahun depan

20 hal yang akan kamu rasakan di usia 20an

10 hal kenapa pacaran sama anak teknik bakal bikin kamu bahagia

See? Formulanya sama. Kudu pake angka dulu di depannya. Tetapi memang kehadiran angka ini menarik minat pembaca. Gue sendiri pun kepincut untuk selalu buka artikel-artikel dari hipwee dan idntimes. Tapi belakangan setelah gue pikir-pikir, artikel-artikel itu gak penting dan super mengada-ngada. Dan penulisnya juga seringnya ga punya ide orisinil

Contohnya aja nih ya, beberapa waktu lalu, di FB banyak beredar tips parenting. Isinya adalah kiat-kiat bersikap ke anak, karena setiap sikap kita akan membentuk pribadi si anak. Misal, terlalu keras akan membuat si anak jadi pembohong. Suka nyinyir akan membuat si anak jadi blablabla.. terus ga berapa lama kemudian, muncullah artikel ala ala ini dengan judul yang kurang lebih seperti ini : untuk orang tuaku, aku jadi begini karena sikapmu dulu. The heck with the author of this article? Can’t you just stop blaming your parents for what you are now? And your writing is an utter plagiarism, i guess

Tapi, banyak juga website yang artikelnya luar biasa bermutu dan juga inspiring. Belakangan ini yang menarik perhatian gue adalah medium.com. itu bukan platform dalam negeri, dan semua contributornya menulis dalam bahasa Inggris. Sebelumnya ada platform sejenis yang namanya thoughtcatalog, tapi belakangan gue udah jarang buka.

Mungkin itu beberapa hal yang bisa gue tulis tentang FB. See ya

Advertisements

New Job

After being an unemployed for about 4 months, I finally get a job. Now I’m a part of insurance company, as an actuary. I never thought that i would have become an actuary at first place, but here I am now, trying my best to learn every single things about pricing an insurance product, particularly some life protection product.

Unlike any other position, actuary is a kind of peculiar position, not everyone knows about it. I’ve got to explain what’s my job is to almost every person I talked to. And  I bet most of you weren’t know about it too. So, let me explain it to you.

Actuary, we can say, is a risk analyst, but they do it by utilizing lots of mathematics and statistics stuffs. Actuary is commonly employed by insurance company to assess the risk faced by the company and to calculate the price of insurance product. However, the job is not confined by insurance company. The fact is that actuary can actually work in every in financial industries, e.g pension fund, employee benefit, and also actuarial consulting. The profession is unique for its method of solving risk problems–method which only can be gained by years of experiences and passing series of examinations.

I might tell you that almost every single profession in the world of financial industry require series of examination, and they also give particular title. For instance, to be an actuary in Indonesia, one must pass 10 examinations with subjects such as financial mathematics, probability, statistics, actuarial mathematics, and some subject about insurance and professionalism. Once they pass all the exams, the Indonesia Society of Actuary will grant them with FSAI title, the title can be put after the last name. Another profession with similar manner is a financial analyst, one have to pass 3 exam–and it takes about 2-4 years to complete the exams, actuary usually takes 5-7 years–to get a CFA title. CFA is for Chartered Financial Analyst. There’s also a title for financial risk managers, but I don’t remember what it is.

So, to be an actuary (one with title) is not easy, it takes every perseverance, commitment, and consistency to learn (I’m telling you the truth, no exaggeration). This is somehow makes me scared since the word ‘learn’ and ‘exam’ itself have a thrilled sensations, ha! So I’m begging you know to wish me luck in my every exam :p

Note : this post is my first written-in-english post. I work so hard to write this one and I hope that this post is still readable. I’m planning to take an english course to improve my writing.

Februari!

Sudah Februari! Waktu terlalu cepat berlalu. Dan gue merasa makin lama gue makin bego. Kenapa? karena gue ga ngapa-ngapain.

Faktanya, gak banyak orang yang bisa tetap membuat diri mereka update dengan segala ilmu. Apalagi setelah lulus dari kuliah. BLASSS ketika lo lulus lo akan merasa posisi lo sama aja kaya dulu pas lulus SMA. “Gue empat taun ke belakang belajar apaan sih?”, kurang lebih begitu isi kepala gue. Tapi kalau lo ingat-ingat lagi, ya memang lumayan banyak sih yang lo pelajari dan lo kuasai. Tapi tetep aja bro, apa yang lo kuasai ga membantu lo dalam menjalani hidup (tsaah). Bukannya karena gak guna ya, tapi karena belum saling terhubung aja tuh bidang-bidang keahlian lo sehingga lo ga bisa ngeliat apa yang lo kuasai sebagai suatu gambaran utuh. Atau kalau pake analogi lain, ilmu lo tuh baru kertas sama draft gambar, nah lo butuh kerja keras untuk ngedetailin gambar lo hingga jadi lukisan utuh yang cakep. Sadis banget analogi gue yak, wkwkwk (gaya-gayaan doang)

By the way, dua hari yang lalu gue dapet offering di suatu perusahaan asuransi jiwa (Alhamdulillah ya Allah, gue masih punya kesempatan untuk ninggalin status unemployed) untuk posisi Actuary. Azeek, akhirnya setelah bertahun-tahun hanya mendengar istilah aktuaris (dan ngabisin satu semester penuh derita demi lulus matematika aktuaria 1 bersama bu Netty), gue pun akhirnya di-offer untuk jadi actuary. Tapi dapet offering belum tentu dapet kerjaan lhoh ya, masih ada satu tahap lagi : medical check up. Somehow, ini part yang paling bikin worry. Secara tahun lalu gue kena TB dan sampe saat ini masih dalam tahap terakhir pengobatan. Well, kata dokter sih udah sembuh dari 6 bulan yang lalu, tapi dia bilang minum obat aja terus untuk maksimalin penyembuhan (supaya sisa flek di paru jadi seminim mungkin). Manalagi gue terakhir rontgen di bulan Desember, yang artinya baru 2 bulan berselang ; ya  ga boleh rontgen laah yaa. Gue sendiri ga paham dengan status penyakit gue, dokter gue pernah bilang penanganan TB gue agak terlambat tapi tetep bisa sembuh (insyaAllah), tapi dia selalu menekankan bahwa TB ini hal wajar di kalangan muda belia para pekerja dan pelajar. Yaaa dua hal tersebut bukannya saling kontradiksi sih, tapi ada kesan dari bahasa yang dia gunakan yang membuat gue yakin bahwa kasus gue runyam, tapi ya ga runyam juga. Yang paling bikin ga yakin adalah doi selalu bicara dengan kalimat yang sama setiap kali gue kontrol, yang kurang lebih isinya begini :

“Memang penyakit paru ini banyak di masyarakat kita, karena masyarakat kurang paham sama penyakit ini…. Kalau sakit paru itu ibarat luka gitu ya di tangan, kalau masih awal-awal kan basah, nanti lama-lama kering, tapi yah biasanya setelah sembuh masih bersisa seperti luka di kulit juga..  jaman sekarang banyak anak muda sakit paru..”

Literally, setiap pemeriksaan,  doi bilang hal-hal di atas. Karena selalu seperti itu, maka gue ga bisa menerka-nerka, gimana sebenarnya kondisi gue. Abisnya gimana coba? kalau doi selalu ngulang hal yang sama setiap pertemuan  kan gue jadi parno juga. Tapi sudahlah. Sakit sehat datangnya dari Allah kok (tsaaaaah)

Balik ke topik pekerjaan, akhirnya gue bilang ke bagian human capitalnya bahwa gue belum bisa rontgen, dan untuk pemeriksaan paru gue minta bagian itu digantikan saja dengan keterangan dokter paru gue dan hasil rontgen terakhir gue. Alhamdulillah, situasi itu masih bisa diterima. Tapi, gue worry. Katanya sih itu rontgen bakal direview sama dokter yang ditunjuk pihak perusahaan, nah gue jadi takut kalau-kalau hasil rontgen dan keterangan dokter gue disanksikan. Secara memang ada sisa nih di paru-paru gue (sisa flek, semacam bekas luka, bukan penyakitnya), yang katanya bakal stay terus disitu sampe lebih dari 5 tahun lagi. Siapa tau, gara-gara ngeliat hasil rontgen gue,  dokter dari asuransinya punya diagnosa berbeda dan memvonis gue gak sehat 😦

Tapi kita harus tetap optimis yekan?! hup hup! Rejeki ga akan kemana, kalau lolos alhamdulillah, kalau ga lolos berarti gue harus mendekem dulu di rumah sampe bener-bener sehat. Gitu aja sih. Tapi memang sih ya gue pengen banget beraktivitas lagi, entah kuliah atau kerja. Tapi di sisi lain juga gue masih pengen stay di rumah, gue bener-bener masih pengen nikmatin waktu gue yang bener-bener lowong. Kesannya kaya gak punya tujuan ya gue? sebenernya bisa dibilang gak punya sih, tapi menurut gue ini cuma masa dormansi aja. Gue butuh waktu untuk mencerna seabrek pelajaran yang Allah kasih ke gue belakangan ini, pelajaran paling berharga dalam hidup gue :’). Nanti (dan dalam waktu dekat), gue akan siap lagi untuk lari ngejer tujuan dan nikmatin hidup 😀

Aku tertipu oleh hidupku sendiri

Aku tertipu oleh hidupku sendiri
Layaknya 80% orang yang kalah
Namun merasa jadi 20% lainnya, para pemenang

Aku lupa aku tak berani melihat mimpiku sendiri
Karena aku sibuk memastikan apakah aku punya cukup penggaris
Untuk bisa mengukur jarak
Jarak antara diamnya kaki dan mimpi

Aku lupa aku pernah jadi pemimpi
Memandang diri dengan bangga hati
Yakin bahwa dunia akan aku rengkuh di kemudian hari

Tapi kemudian takut itu menyergap
Dan aku tersekap pengap
Dan tak lagi mampu bermimpi
Mati di tanah imajinasi
Terkungkung dalam takut yang mewujud rasa aman

Takut dan aman itu penipu
Aku ingin bebas tanpa perlu merasa aman
Aku ingin lepas tanpa perlu dikuasai takut

Untuk apalah ilmu dicari?
Jika di ujung waktu aku hanya jadi budak materi
Kusadari aku berubah menjadi
Sosok yang sedari SMA kucaci maki

Terkadang aku ingin berjumpa dengan dia
Diriku di bangku SMA
Mungkin ia akan menamparku dengan keras
Meluapkan marahnya lewat makian keji
“Kau pikir buat apa aku berimaji?”
“Saraf otakmu mungkin berkembang, tapi kemana nyalimu? Kemana semangatmu? Kemana hasratmu? Lumpuh! Aku lebih baik dimakan anjing!”
Pasti ia marah kepadaku
Aku ingin minta maaf kepadanya
“Buang saja margamu!”

Sosok itu berbicara seenaknya
Tapi itu yang disebut muda
Berani
Tak perduli
Tapi punya mimpi

Hidupku menipuku
Mencuri mimpi-mimpiku
Mengenalkanku pada rasa takut
Sekaligus pada rasa aman yang semu

Teruntuk kamu, diriku sendiri di masa lalu
Bisakah kamu kembali?
Aku ingin kembali bermimpi
Bahagia dalam imaji dan fantasi
Tak gentar tak takut mati

Teringat aku pada diriku di SMP
Kala itu ia selalu mengingat sebuah sajak dari Slamet Gundono
Aku yang sekarang tak lagi ingat seperti apa bunyinya
Sedikit kurang ini yang mampu kuingat
“Apakah kamu takut sendiri?
Tapi, manusia memang selalu sendiri”
Ada yang membekas dari sajak ini
Sesuatu yang saat ini tak lagi bisa kupahami
Aku yang sekarang
Tidak lagi sepeka aku di SMP

Aku tertipu oleh hidupku sendiri

Quick post!

Ini quick post mengenai 3 hal yang pertama teringat di kepala dan alasan kenapa teringat.
1. Skripsi. Deadline revisi: besok.
2. Pacar. Perasaan saat ini : dirajam rindu
3. Mobil box yakult. Tagline ‘sayangi ususmu’ terbaca sebagai ‘sayangi susumu’.

Basis Kekuasaan

Kondisinya sekarang adalah gue abis pulang dari acara akad nikah sepupu. Ya seperti biasa akad nikah itu isinya ijab qobul gitu kan. Sebenernya bukan sesuatu yang luar biasa untuk diceritakan. Tapi ada satu hal menarik sih. Ternyata di jaman-jaman begini, bapak bapak (plus ibu ibunya) lagi demen banget ngomongin pilpres. Jadi pas lagi nunggu waktu acara dimulai, mereka sempet-sempetnya debatin capres dan cawapres. Yang lucu, walaupun umur udah pada tua, ternyata perdebatannya agak-agak konyol. Bisa dibilang ada orang-orang yang begitu mengidolakan salah satu capres, yang ketika ditanya alasannya, mereka mengutarakan hal-hal yang gak masuk akal. Lucu deh

Continue reading

Baca Blog

Belakangan ini gue cukup sering melihat blog orang-orang. Ralat. Gak sesering itu sih. Tapi gue suka ngebaca blog orang-orang. Sebenernya dari awal, pemahaman gue tentang blog dan blogging sesederhana ‘diary umum’ dan ‘nulis diary’. Jadi yang namanya blog itu, menurut gue, ya bebas, sebebas isi kepala si penulis blog. Ada blogger yang yang sukanya curhat plek-plekan, terbuka seterbuka-terbuka-nya, segala kejadian di hidupnya ditulis persis presisi, mulai dari lokasi kejadian, waktu kejadian, sampe orang-orang yang terlibat di kejadian hidupnya itu ditulis. Satu lagi yang gak kelupaan adalah perasaan dia saat mengalami kejadian-kejadian tersebut. Ada juga blogger yang sukanya komentar ini itu mengenai fenomena yang kerap terjadi di sekelilingnya dia, mulai dari fenomena sehari-hari, sampe yang berat-berat kaya pemilu-pilpres gitu. Inti dari tulisan-tulisan para blogger sebenernya adalah mereka nyampein pendapat mereka, entah itu untuk hal yang terjadi pada diri mereka sendiri, atau untuk hal-hal lain.

Continue reading

Kami

Sulit jika dunia dikuasai mereka yang berbicara
Introversi berakhir inferioritas
Tertanggung sakit akibat bias makna
Tak mampu melepas isi kepala

Ada yang bisa secara alami
Tapi bagi kami, hanya ada jalan keras menguji kemauan hati
Semua jadi sulit dipahami
Dan terasa aman untuk tidak dipahami
Ada yang terkunci, dengan kunci yang sebaiknya jangan dicari

Tak ada yang ditutupi
Kita hidup dalam banyak definisi
Sayangnya yang berbicara mampu berkoalisi
Dan kami terbelenggu kepala sendiri
Dunia lalu menghakimi
Kami diam tanpa defensi
Kita hidup dalam banyak definisi
Tapi jarang ada yang melihat dari banyak sisi

Annizza S
21 April 2014